Wisata Sejarah & Peribadatan

Museum Timah

Museum yang menjadi kebanggan masyarakat Provinsi Bangka Belitung khususnya masyarakat kota Pangkalpinang merupakan satu-satunya museum timah yang ada di indonesia, bahkan di Asia seperti kita ketahui, Provinsi Bangka Belitung memliki banyak  obyek wisata berupa pantai yang menjadi favorite para wisatawan. Namun hal tersebut tidak lantas menjadikan museum ini sepi pengunjung. Justru Museum Timah ini merupakan objek wisata favorite selain berbagai pantai yang terdapat di Pangkalpinang.

Dahulu bangunan museum ini merupakan tempat tinggal para karyawan Bangka Tin Winning (BTW). Pernah pula digunakan sebagai tempat diadakannya Perjanjian Roem-Royen. Sebuah perjanjian antara Indoensia dan Belanda pada tanggal 7 mei 1949. Pada waktu itu delegasi Indonesia diwakili oleh Mr.Moh.Roem, sedangkan delegasi Belanda diwakili oleh H.J. Van Royen. Hasil perjanjian tersebut hingga kini masih tersimpan dengan rapi di museum ini sebagai bukti sejarah Indoensia.

Masjid Jamik

Guna mendukung sektor pariwisata religi keberadaan Masjid Jamik, terletak dijalan Masjid Jamik, merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Pangkalpinang. Masjid Jamik Di bangun pada tanggal 3 syawal 1355 H atau bertempatan dengan 18 Desember 1936 H yang dibuktikan dari tulisan yang masih dapat dilihat pada meja putih terbuat dari marmer, yang letaknya bergeser ke barat pekarangan depan masjid sekarang.

Masjid dibangun oleh masyarakat Kampung Dalam Pangkalpinang yang merupakan masyarakat asli Kampung Tuatunu yang pindah karena perbedaan paham dan khilafiah. Salah satu keunikan masjid ini adalah antara tetangga depan ( berbentuk setengah lingkaran ) dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga ( ukuran kecil ) berjumlah 5 tiang, bisa diartikan sebagai Rukun Islam dan antara tembok depan dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 buah ( 3 sebelah kanan dan 3 sebelah kiri ), dapat diartikan Rukun Iman. Memiliki empat tiang utama sesuai jumlah Khalifaturrasyidin, lima pintu masuk 3 di depan dan 1 di samping kiri dan 1 kanan serta terdiri atas 3 undakan atau tingkatan dengan satu kubah dan empat menara. Masjid Jamik adalah salah satu Benda Cagar Budaya Kota Pangkalpinang.

Klenteng Kwan Tie Miaw

Kelenteng Kwan Tie Miaw merupakan salah satu kelenteng tertua yang ada di Pulau Bangka. Kelenteng ini terletak di jalan Mayor Muhidin, Pangkalpinang. Dulunya bernama kelenteng Kwan Tie Bio. Kelenteng ini diperkirakan dibuat pada tahun 1841 Masehi (dari aksara cina pada sebuah Lonceng besi di kelenteng). Pembangunannya sendiri dilakukan secara gotong royong oleh berbagai kelompok Kongsi penambangan timah yang ada di Pangkalpinang, dan diresmikan pada tahun 1846.

Pada Kelenteng tertua di Pangkalpinang ini terdapat hiasan buah Labu (Gourd) di puncak atap kelenteng dan adanya lambang Patkwa (Pakua) di depan kelenteng yang di tengahnya ada lingkaran hitam putih (Ying dan Yang), Patkwa (Pakua) melambangkan keberuntungan, rejeki atau kebahagiaan. Nama kelenteng sudah dua kali mengalami perubahan, pada masa Orde Baru kelenteng ini bernama Amal Bhakti. Pada tahun 1986 bagian depan kelenteng terkena pelebaran jalan sehingga pekarangan depan, pintu serta tembok depan mundur beberapa meter, bagian altar Kuan Tie tetap utuh dan bagian depan dibangun menjadi 2 lantai. Pada Tanggal 22 Februari 1998 terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan kelenteng kecuali pada bagian kiri bangunan, sejak itu dilakukanlah pemugaran kembali dipimpin oleh Jamal seorang ahli dalam kelenteng dan pembuatan patung dan rehabilitasi selesai seperti bentuk sekarang serta diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1999 dengan nama kelenteng Kwan Tie Miau.

Kawasan Kelenteng Kwan Tie Miaw ini sekarang ditambah dengan lokasi Gang Singapur dan Pasar Mambo sedang dikondisikan sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata Kota Pangkalpinang yaitu wisata budaya, wisata belanja dan wisata kuliner. Lokasi ini diupayakan menjadi China Town (untuk mengingatkan kepada wajah kota lama Pangkalpinang yang sangat dipengaruhi oleh rumah rumah dan kelenteng Cina) dan dijadikan juga sebagai pusat upacara peringatan hari Raya Imlek, puncak hari raya Cap Go Meh, kegiatan Sembahyang Rebut dan kegiatan Pot Ngin Bun. Kegiatan Pot Ngin Bun merupakan satu satunya ritual yang ada di kelenteng Kwan Tie Miaw. Kegiatan ini dilakukan untuk menolak bala dan segala wabah penyakit yang mewabah di Masyarakat seperti wabah Beriberi yang mewabah di Bangka sekitar tahun 1850-1860.

GPIB Maranatha

Gereja ini awalnya bernama Kerkeraad der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang, dibangun pada masa pemerintahan Residen J.E. Eddie pada tahun 1927, bersamaan dengan pembangunan menara air di Bukit Mangkol. Setelah masa kemerdekaan, melalui Indische Kerk (GPI), nama gereja diubah menjadi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Maranatha Pangkalpinang. Pemerintah Belanda menempatkan seorang pendeta pertama kali bernama J.N. Beiger untuk melayani dan mengurus jemaat GPIB Maranatha Pangkal pinang.

Bangunan gereja memiliki ciri yang unik dan menarik karena terdapat menara jam yang besar. Di lingkungan gereja dibangun pula Pastori (rumah pendeta). Bangunan terbuat dari beton dengan atap berbentuk limas, dinding dari bata yang dilapisi batu granit. Dinding bagian depan berbentuk segitiga si atasnya terdapat Salib. Bangunan terdiri dari satu bangunan inti dan dua bangunan pendukung pada bagian kanan dan belakang. Pada bangunan tengah (ruang utama/inti), atapnya terdapat menara yang di atasnya terdapat Salib.