Wisata Budaya

Budaya Nganggung

Sebagai bagian dari rentang dan rumpun tanah melayu, Pangkalpinang memiliki beragam adat istiadat dan budaya. Keanekaragaman etnis dari berbagai nusantara membentuk budaya yang unik dan menarik, serta kesenian tradisional yang terus berkembang pesat.

Nganggung, merupakan tradisi gotong royong masyarakat Kota Pangkalpinang dengan membawa makanan lengkap diatas dulang kuningan yang ditutup dengan tudung saji, Tiap pintu rumah ( keluarga ) membawa satu dulang yang terbuat dari Kuningan, berisi makanan sesuai dengan status dan kemampuan kelaurga tersebut.

Tradisi Nganggung sering juga disebut dengan adat Sepintu Sedulang. Tradisi ini biasanya dilakukan pada upacara upacara keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Mauludan, Nisfu Sya’ban, dan pada kegiatan Muharram. Kegiatan Ngganggung biasanyan dilakukan di Masjid dan di Kota Pangkalpinang sering dilaksanakan Nganggung Akbar di Rumah Dinas Walikota setelah dilaksanakan Pawai Taaruf

Makam Akek Bandeng

Akek dalam sebutan orang Bangka berarti kakek dan Bandeng dalam bahasa Daerah Tua Tunu Berarti orang yang selama hidupnya tidak menikah. Nama sebenarnya dari AKek Bandeng adalah Akek Malik, Beliau lahir sekitar tahun 1850 dan wafat tahun 1920. Makam tersebut sering diziarahi masyarakat karena Akek Bandeng adalah seorang ahli ibadah dan shaleh serta dikaruniai oleh Allah SWT dengan bermacam barokah. Asal – usul Akek Bandeng sendiri di masyarakat Kampung Melayu Tuatunu tidak begitu jelas sehingga informasi hanya berkembang dari mulut ke mulut.

Ceng Beng

Ritual Ceng Beng atau Sembahyang Kubur merupakan upacara perwujudan dari sikap masyarakat TiongHoa yang sangat mencintai dan menghormati leluhurnnya, seluruh keluarga baik yang ada di Pangkalpinang atau di perantauan berupaya untuk pulang dan melaksanakan ritual.

Kegiatan Ritual ini dimulai dengan membersihkan kuburan dan pendem biasanya dilakukan 10 hari sebelum pelaksanaan Ceng Beng.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada tiap tanggal 5 April kalender Masehi. Kegiatan dilaksanakan sejak dini hari hingga terbit fajar dengan melakukan sembahyang dan meletakkan sesajian berupa aneka buah-buahan ( cai choi ), uang kertas ( kim cin) dan membakar garu (hio), suasana dengan lampion dan beraroma hio yang menyengat hidung serta diiringi dengan alunan musik Belaz Band atau Tajidor.

Pawai Ta’aruf

Pawai Ta’aruf adalah pawai tradisional yang diikuti semua lapisan masyrakat dan diadakan dalam menyambut hari – hari besar islam, yang mana sebagian besar masyarakat melakukan pawai keliling kota dengan menggunakan baju muslim yang beraneka ragam. Sambil melantunkan salawat dan lagu-lagu islami, mengusung replika Al-Quran dan poster berisi pesan menjauhi masksiat. Upacara ini diadakan dalam Pawai Ta’aruf ini menjadi tontonan yang menarik bagi wsiatawan.