Apel Kebhinekaan Cinta Damai

apel kebhinnekaan
IWAN6187 IWAN6268 IWAN6310 IWAN6315 IWAN6320

 

Selasa, (15/11) telah dilaksanakan Apel Kebhinekaan Cinta Damai di Alun-Alun Taman Merdeka. Dalam apel tersebut turut hadir Plt. Walikota Pangkalpinang, Kepala Kepolisian Resort Pangkalpinang, Dandim 0413 Bka, Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Kepala Pengadilan Negeri Kota Pangkalpinang, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Pangkalpinang, Pejabat Eselon II Pemerintah Kota Pangkalpinang, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Ketua Paguyuban Suku Yang ada di Pangkalpinang.

Dalam sambutannya Plt. Walikota Pangkalpinang menyampaikan bahwa kita telah melaksanakan dan melestarikan nilai-nilai budaya Bangsa yang seiring dengan tema “Melalui Hikmah Hari Pahlawan Ke 71 Tahun 2016 Kita Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi masyarakat Guna Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan NKRI yang Kokoh”. Sejarah telah membuktikan bahwa Bangsa Indonesia yang lahir dari keanekaragaman suku, agama, budaya, Bangsa dan daerah asal yang tersebar luar dalamribuan pulau telah menyepakati suatu cara hidup bersama dalam kebhinekaan warga negara suatu bangsa. Pancasila dan UUD 1945 merupakan landasan wawasan nusantara karena dalam pembukaan UUD 1945 tercantum pancasila yang mengandung nilai-nilai Universal dan lestari sedangkan waswasan nusantara merupakan perwujudan pesa-pesan pembukaan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari pengalaman sejarah bangsa, sejak budi utomo yang kita peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional dan Ikrar Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan RI sampai saat ini telah mengalami pasang surut dan dinamika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada era globalisasi, transparansi dan reformasi yang sedang menguji keberadaan Bangsa Indonesia., tanpa disadari keadaan tersebut telah mampu menggeser nilai-nilai Bangsa yang selama ini terpatri kuat dan menjiwai kehidupan Berbangsa, Bernegara dan Bermasyarakat. Nilai kebangsaan yang terkandung dalam pancasila tidak lagi menjadi bagian yang harus dimengerti, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Wawasan Kebangsaan tercermin dari prilaku hidup yang semakin memprihatikan, sentimen dan fanatisme Suku, Ras dan Antar Golongan semakin menonjol sehingga menjadi rentan terjadinya gesekan-gesekan konflik dan bermuara pada SARA di berbagai daerah. Selain itu kondisi politik yang makin labil ikut menambah kesenjangan ekonomi, sentimen etnis, berpotensi muncul terjadinya perselisihan dan tindak kriminalitas baik secara kualitas maupun kuantitas.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hendaknya sikap dan pola tingkah laku kita senatiasa berasaskan pada pengamalan Pancasila, yang Sila Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa untuk meningkatkan kesetiakawanan dan saling menghargai, Sila Pertama ini harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari secara kongkrit, umat beragama harus rukun antar sesama pemeluk agama berdasarkan Asas Bhineka Tunggal Ika. Persatuan dan Kesatuan tidak boleh mematikan keanekaan dan sebaliknya keanekaan tersebut tidak boleh memudarkan persatuan dan kesatuan. Kesatuan haruslah memberikan peluang secukupnya bagi perkembangan keanekaan dan sebaliknya keanekaan memperkaya kesatuan, sehingga dengan itu semya perlu membina bukan hanya toleransi antar golongan di dalam masyarakat Indonesia. _(humaspemkot-pkp)

You may also like...